Sosial 12 Juli 2026

FKDC: Pola Asuh Menentukan Kemandirian Difabel di Masa Depan

FKDC: Pola Asuh Menentukan Kemandirian Difabel di Masa Depan

Cirebon, 11 Juli 2026 – Pola asuh dalam keluarga menjadi salah satu faktor utama yang menentukan tumbuhnya kemandirian difabel. Orang tua diharapkan tidak hanya memberikan kasih sayang dan perlindungan, tetapi juga kesempatan bagi anak difabel untuk belajar, mengambil keputusan, dan mengembangkan potensinya sejak dini.

 

Hal tersebut disampaikan Ketua Forum Difabel  Kabupaten Cirebon (FKDC), Abdul Mujib, saat menjadi narasumber dalam program Ruang Disabilitas & Inklusi yang disiarkan secara langsung dari Studio Pro 1 RRI Cirebon, Sabtu (11/7/2026). Dialog yang dipandu presenter Chaerul Anwar itu mengangkat tema "Pola Asuh dan Implikasinya terhadap Kemandirian Penyandang Disabilitas dalam Kehidupan Sosial dan Ekonomi."

 

Menurut Abdul Mujib, masih banyak keluarga yang tanpa disadari menerapkan pola asuh yang terlalu melindungi anak difabel. Meskipun dilandasi rasa sayang, sikap tersebut justru dapat mengurangi kesempatan anak untuk belajar mandiri dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.

 

"Kemandirian difabel dimulai dari keluarga. Ketika anak diberi kesempatan untuk mencoba, belajar, dan mengambil keputusan sesuai kemampuannya, rasa percaya diri akan tumbuh. Sebaliknya, jika selalu dibatasi karena dianggap tidak mampu, potensi mereka sulit berkembang," ujarnya.

 

Ia menjelaskan bahwa kemandirian tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bekerja atau memperoleh penghasilan. Lebih dari itu, kemandirian mencakup kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari, mengakses pendidikan, membangun hubungan sosial, menyampaikan pendapat, serta berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Abdul Mujib juga menekankan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi difabel sering kali bukan berasal dari kondisi disabilitas itu sendiri, melainkan dari stigma, diskriminasi, dan rendahnya kepercayaan terhadap kemampuan difabel. Karena itu, perubahan cara pandang keluarga dan masyarakat menjadi langkah penting dalam mewujudkan lingkungan yang inklusif.

 

Melalui berbagai program pendampingan, pemberdayaan, dan advokasi, FKDC terus mendorong terciptanya ekosistem yang mendukung kemandirian difabel. Menurutnya, kolaborasi antara keluarga, pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat akan membuka lebih banyak kesempatan bagi difabel untuk berkarya dan berkontribusi.

 

Menutup dialog, Abdul Mujib mengajak seluruh orang tua untuk tidak memandang difabel dari keterbatasannya, melainkan dari potensi yang dimiliki. Dengan pola asuh yang tepat, dukungan yang berkelanjutan, dan kesempatan yang setara, difabel mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, serta berperan aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Sebelumnya Dwi Hasri Tunjukkan Lukisan Bakar Berbahan Kertas Daur Ulang, Inovasi Kreatif FKDC untuk Pemberdayaan Difabel Selanjutnya Hari Pertama Pelatihan Tata Boga, Anggota KDD Lima Desa Praktik Membuat Brownies